http://www.facebook.com/connect/prompt_feed.php?preview=true&api_key=2254487659
MATEMATIKA UNTUK SEMUA
TUHAN menciptakan manusia di muka bumi ini dilengkapi dengan kemampuan berpikir atau akal yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, yang menentukan manusia ingin cerdas atau tidak ialah pendidikan yang ditularkan orang tua ataupun lingkungan mereka.
Begitulah salah satu prinsip yang dipegang Yohanes Surya, pendiri Surya Institute, lembaga yang memiliki perhatian di bidang sains terutama matematika, dengan metode belajar gasing (gampang, asyik, dan menyenangkan).Merealisasikan itu tentu tidak mudah. Yohanes mencoba melakukannya dengan mengajak kerja sama pemerintah daerah, terutama daerah-daerah yang kehidupan masyarakatnya masih tertinggal. Salah satu daerah itu ialah Provinsi Papua.
Saat ini, ada sekitar 90 anak asal Papua yang dibina Surya Institute. Biaya pendidikan dan penginapan anak-anak itu sudah dijamin atau ditanggung pemerintah daerah."Saya sengaja mendatangkan anak-anak dari daerah tertinggal seperti Papua, karena jika mereka berhasil belajar, mereka bisa menjadi pionir memajukan pendidikan di daerah tersebut," kata Yohanes kepada Media Indonesia, di Serpong, Tangerang, Banten, pekan lalu.
Harapan bisa menjadi pionir, karena anak-anak Papua rupanya tidak kalah dengan anak-anak lainnya dari daerah yang lebih maju. Pasalnya, mereka juga bisa dibina dengan cepat di Kantor Surya Institute di Jl Pahlawan Seribu, Golden Boulevard Blok U3-U6, BSD City, Tangerang, Banten.Mereka yang dibina itu sebagian besar pelajar SD dari beberapa kabupaten di Papua, seperti Jayawijaya, Jayapura, Sorong Selatan, Fakfak, Woropan, Tolikara, dan Nduga. Rata-rata dari mereka adalah siswa yang terbelakang di bidang matematika di sekolahnya.
"Namun, setelah mereka belajar matematika maksimal 6 bulan, kemajuan mereka, sangat pesat, bahkan mereka bisa diadu dengan para siswa pintar di sekolah asalnya," tutur Yohanes.Tekniknya, ungkap Yohanes, sangatlah sederhana. Kemampuan mereka dalam pelajaran matematika cukup diasah secara bertahap. Yakni, dimulai dari penjumlahan bilangan di bawah 20. Jika sudah dihafal oleh mereka, ditingkatkan ke perkalian 1-10.Selanjutnya, jika penjumlahan dan perkalian telah mumpuni, pengurangan dan pembagian pun bisa dikuasai.Metode yang diajarkan Yohanes itu pun berbuah hasil.
Buktinya, sebanyak enam siswa SD asal Papua binaan Surya Institute pada 2009 mampu meraih nilai ujian nasional (UN) untuk bidang Matematika, IPA, bahasa Indonesia dan lainnya di atas nilai 90."Artinya, jika pelajaran matematika sudah bisa dimengerti, pelajaran lainnya pun akan mudah dipelajari dan mengerti. Jadi, kuncinya adalah bagaimana menanamkan pelajaran matematika itu kepada siswa agar mudah dimengerti," tandas Yohanes.Hal tersebut dibenarkan Geterina Sikwa, siswa kelas 5 SD asal Papua. Menurut Sikwa, pelajaran matematika dapat dikuasai dalam waktu maksimal 6 bulan."Kalau kita menguasai matematika, bidang pelajaran lainnya tidak sulit," kata Sikwa.
Sebab itu, Sikwa kini merasa senang. Baginya, matematika tidak lagi seperti pelajaran yang menyeramkan seperti sebelum ia dididik di Surya Institute. Bahkan, ia kini mulai menyukai mata pelajaran lain seperti bahasa Indonesia dan ilmu pengetahuan alam.Meski Sikwa mulai menyukai mata pelajaran lain setelah matematika, bagi Yohanes Surya, tugasnya belum usai. "Saat ini, saya masih mau membina siswa dari daerah tertinggal lainnya agar bisa seperti Sikwa," tandasnya. (Sumantri Handoyo/H-3)
by janyur uksw,,from http://bataviase.co.id/node/353291
Kisah-kisah Ajaib Seputar Matematika
Mencengangkan? Itulah serangkaian contoh bahwa dunia matematika pun bisa membuat kita terheran-heran.

Pembelajaran Matematika Dengan Metode Ekspositori
PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.Untuk menghadapi keadaan demikian yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif tersebut artiya siswa harus memiliki kemampuan matematika. Kemampuan matematika yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan minimal yang diajarkan di sekolah tempat mereka belajar. Dalam pelaksanaan Pembelajaran matematika dalam kelas, guru harus dapat membantu siswa untuk belajar matematika. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar murid-murid belajar. Dalam menciptakan suasana atau pelayanan, hal yang esensial bagi guru adalah memahami bagaimana murid-muridnya memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-muridnya ( Rusdi A sirod). Adapun tujuan pembelajaran mata pelajaran matematika SMA ( Standar Kompetensi, 2006) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sbb :1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika SMA tersebut, diperlukan kemampuan seorang guru matematika dalam menggunakan metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode pengajaran ekspositori.2. TEORI BELAJAR-MENGAJAR MATEMATIKA YANG RELEVANTeori belajar mengajar matematika yang relevan dengan metode ekspositori dalam pembelajaran matematika antara lain :a. Teori GagneDalam belajar matematika ada 2 objek yang dapat diperoleh siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain adalah : kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri ( belajar, bekerja, dan lain-lain ), bersikap positif terhadap matematika, tahu bagaimana semestinya belajar.
Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan prinsip.• Fakta . Contoh fakta adalah : angka/lambang bilangan, sudut, ruas garis, symbol notasi• Keterampilan, keterampilan adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat, Misalnya : Membagi sebuah ruas garis yang sama panjang, melakukan pembagian cara singkat, dll• Konsep, adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan bukan contoh.• Prinsip, prinsip adalah objek yang paling abstrak, dapat berupa sifat, dalil, teori, dll.b. Teori AusubelDavid Ausubel, termasuk ke dalam aliran tingkah laku. Ia terkenal dengan belajar bermaknanya dan penting adanya pengulangan sebelum pelajaran dimulai. Ausubel membedakan belajar menerima dengan belajar menemukan. Pada belajar menerima bentuk akhir dari yang diajarkan itu diberikan sedangkan pada belajar menemukan , bentuk akhir itu harus dicari oleh siswa. Misal, bila kita mengajarkan rumus akar persamaan kuadrat, pada belajar menerima rumus akar persamaan kuadrat itu diberitahukan. Sedangkan pada belajar menemukan, rumus itu harus ditemukan oleh siswa. Ausubel juga membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. Belajar menghafal , siswa belajar melalui menghafalkan apa yang sudah diperoleh. Belajar
bermakna bermakna adalah belajar yang untuk meahami apa yang sudah diperolehnya itu dikaitkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya itu lebih bermakna.Ausubel berpendapat bahwa baik belajar menemukan maupun belajar menerima ( dengan metode ekspositori) , kedua-duanya dapat menjadi belajar mengafal atau belajar bermakna.Contoh : dalam mempelajari konsep dalil pyhtagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk terakhir c2=b2+c2
sudah disajikan (belajar menerima), tetapi siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku; jadi ia belajar secara bermakna. Siswa lain memahami c2=b2+c2
dari pencarian ( belajar menemukan ) , tetapi bila ia hanya menghafalkan c2=b2+c2
tanpa dikaitkan dengan sisi-sisi segitiga siku-siku, maka terjadinya ia menghafal.
http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/09/pengertian-metode-ekspositori/
Pembelajaran Matematika Dengan Metode Ekspositori
PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.Untuk menghadapi keadaan demikian yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif tersebut artiya siswa harus memiliki kemampuan matematika. Kemampuan matematika yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan minimal yang diajarkan di sekolah tempat mereka belajar. Dalam pelaksanaan Pembelajaran matematika dalam kelas, guru harus dapat membantu siswa untuk belajar matematika. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar murid-murid belajar. Dalam menciptakan suasana atau pelayanan, hal yang esensial bagi guru adalah memahami bagaimana murid-muridnya memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-muridnya ( Rusdi A sirod). Adapun tujuan pembelajaran mata pelajaran matematika SMA ( Standar Kompetensi, 2006) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sbb :1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika SMA tersebut, diperlukan kemampuan seorang guru matematika dalam menggunakan metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode pengajaran ekspositori.2. TEORI BELAJAR-MENGAJAR MATEMATIKA YANG RELEVANTeori belajar mengajar matematika yang relevan dengan metode ekspositori dalam pembelajaran matematika antara lain :a. Teori GagneDalam belajar matematika ada 2 objek yang dapat diperoleh siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain adalah : kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri ( belajar, bekerja, dan lain-lain ), bersikap positif terhadap matematika, tahu bagaimana semestinya belajar.
Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan prinsip.• Fakta . Contoh fakta adalah : angka/lambang bilangan, sudut, ruas garis, symbol notasi• Keterampilan, keterampilan adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat, Misalnya : Membagi sebuah ruas garis yang sama panjang, melakukan pembagian cara singkat, dll• Konsep, adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan bukan contoh.• Prinsip, prinsip adalah objek yang paling abstrak, dapat berupa sifat, dalil, teori, dll.b. Teori AusubelDavid Ausubel, termasuk ke dalam aliran tingkah laku. Ia terkenal dengan belajar bermaknanya dan penting adanya pengulangan sebelum pelajaran dimulai. Ausubel membedakan belajar menerima dengan belajar menemukan. Pada belajar menerima bentuk akhir dari yang diajarkan itu diberikan sedangkan pada belajar menemukan , bentuk akhir itu harus dicari oleh siswa. Misal, bila kita mengajarkan rumus akar persamaan kuadrat, pada belajar menerima rumus akar persamaan kuadrat itu diberitahukan. Sedangkan pada belajar menemukan, rumus itu harus ditemukan oleh siswa. Ausubel juga membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. Belajar menghafal , siswa belajar melalui menghafalkan apa yang sudah diperoleh. Belajar
bermakna bermakna adalah belajar yang untuk meahami apa yang sudah diperolehnya itu dikaitkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya itu lebih bermakna.Ausubel berpendapat bahwa baik belajar menemukan maupun belajar menerima ( dengan metode ekspositori) , kedua-duanya dapat menjadi belajar mengafal atau belajar bermakna.Contoh : dalam mempelajari konsep dalil pyhtagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk terakhir c2=b2+c2
sudah disajikan (belajar menerima), tetapi siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku; jadi ia belajar secara bermakna. Siswa lain memahami c2=b2+c2
dari pencarian ( belajar menemukan ) , tetapi bila ia hanya menghafalkan c2=b2+c2
tanpa dikaitkan dengan sisi-sisi segitiga siku-siku, maka terjadinya ia menghafal.
http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/09/pengertian-metode-ekspositori/
Pembelajaran Matematika Dengan Metode Ekspositori
PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.Untuk menghadapi keadaan demikian yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif tersebut artiya siswa harus memiliki kemampuan matematika. Kemampuan matematika yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan minimal yang diajarkan di sekolah tempat mereka belajar. Dalam pelaksanaan Pembelajaran matematika dalam kelas, guru harus dapat membantu siswa untuk belajar matematika. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar murid-murid belajar. Dalam menciptakan suasana atau pelayanan, hal yang esensial bagi guru adalah memahami bagaimana murid-muridnya memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-muridnya ( Rusdi A sirod). Adapun tujuan pembelajaran mata pelajaran matematika SMA ( Standar Kompetensi, 2006) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sbb :1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika SMA tersebut, diperlukan kemampuan seorang guru matematika dalam menggunakan metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode pengajaran ekspositori.2. TEORI BELAJAR-MENGAJAR MATEMATIKA YANG RELEVANTeori belajar mengajar matematika yang relevan dengan metode ekspositori dalam pembelajaran matematika antara lain :a. Teori GagneDalam belajar matematika ada 2 objek yang dapat diperoleh siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain adalah : kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri ( belajar, bekerja, dan lain-lain ), bersikap positif terhadap matematika, tahu bagaimana semestinya belajar.
Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan prinsip.• Fakta . Contoh fakta adalah : angka/lambang bilangan, sudut, ruas garis, symbol notasi• Keterampilan, keterampilan adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat, Misalnya : Membagi sebuah ruas garis yang sama panjang, melakukan pembagian cara singkat, dll• Konsep, adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan bukan contoh.• Prinsip, prinsip adalah objek yang paling abstrak, dapat berupa sifat, dalil, teori, dll.b. Teori AusubelDavid Ausubel, termasuk ke dalam aliran tingkah laku. Ia terkenal dengan belajar bermaknanya dan penting adanya pengulangan sebelum pelajaran dimulai. Ausubel membedakan belajar menerima dengan belajar menemukan. Pada belajar menerima bentuk akhir dari yang diajarkan itu diberikan sedangkan pada belajar menemukan , bentuk akhir itu harus dicari oleh siswa. Misal, bila kita mengajarkan rumus akar persamaan kuadrat, pada belajar menerima rumus akar persamaan kuadrat itu diberitahukan. Sedangkan pada belajar menemukan, rumus itu harus ditemukan oleh siswa. Ausubel juga membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. Belajar menghafal , siswa belajar melalui menghafalkan apa yang sudah diperoleh. Belajar
bermakna bermakna adalah belajar yang untuk meahami apa yang sudah diperolehnya itu dikaitkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya itu lebih bermakna.Ausubel berpendapat bahwa baik belajar menemukan maupun belajar menerima ( dengan metode ekspositori) , kedua-duanya dapat menjadi belajar mengafal atau belajar bermakna.Contoh : dalam mempelajari konsep dalil pyhtagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk terakhir c2=b2+c2
sudah disajikan (belajar menerima), tetapi siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku; jadi ia belajar secara bermakna. Siswa lain memahami c2=b2+c2
dari pencarian ( belajar menemukan ) , tetapi bila ia hanya menghafalkan c2=b2+c2
tanpa dikaitkan dengan sisi-sisi segitiga siku-siku, maka terjadinya ia menghafal.
http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/09/pengertian-metode-ekspositori/


