• Post Title

    Category

    Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s,when an unknown printer...

    Buton

  • tinggal COPAS aja..!!

    http://www.facebook.com/connect/prompt_feed.php?preview=true&api_key=2254487659

    MATEMATIKA UNTUK SEMUA


    TUHAN menciptakan manusia di muka bumi ini dilengkapi dengan kemampuan berpikir atau akal yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, yang menentukan manusia ingin cerdas atau tidak ialah pendidikan yang ditularkan orang tua ataupun lingkungan mereka.

    Begitulah salah satu prinsip yang dipegang Yohanes Surya, pendiri Surya Institute, lembaga yang memiliki perhatian di bidang sains terutama matematika, dengan metode belajar gasing (gampang, asyik, dan menyenangkan).Merealisasikan itu tentu tidak mudah. Yohanes mencoba melakukannya dengan mengajak kerja sama pemerintah daerah, terutama daerah-daerah yang kehidupan masyarakatnya masih tertinggal. Salah satu daerah itu ialah Provinsi Papua.

    Saat ini, ada sekitar 90 anak asal Papua yang dibina Surya Institute. Biaya pendidikan dan penginapan anak-anak itu sudah dijamin atau ditanggung pemerintah daerah."Saya sengaja mendatangkan anak-anak dari daerah tertinggal seperti Papua, karena jika mereka berhasil belajar, mereka bisa menjadi pionir memajukan pendidikan di daerah tersebut," kata Yohanes kepada Media Indonesia, di Serpong, Tangerang, Banten, pekan lalu.

    Harapan bisa menjadi pionir, karena anak-anak Papua rupanya tidak kalah dengan anak-anak lainnya dari daerah yang lebih maju. Pasalnya, mereka juga bisa dibina dengan cepat di Kantor Surya Institute di Jl Pahlawan Seribu, Golden Boulevard Blok U3-U6, BSD City, Tangerang, Banten.Mereka yang dibina itu sebagian besar pelajar SD dari beberapa kabupaten di Papua, seperti Jayawijaya, Jayapura, Sorong Selatan, Fakfak, Woropan, Tolikara, dan Nduga. Rata-rata dari mereka adalah siswa yang terbelakang di bidang matematika di sekolahnya.

    "Namun, setelah mereka belajar matematika maksimal 6 bulan, kemajuan mereka, sangat pesat, bahkan mereka bisa diadu dengan para siswa pintar di sekolah asalnya," tutur Yohanes.Tekniknya, ungkap Yohanes, sangatlah sederhana. Kemampuan mereka dalam pelajaran matematika cukup diasah secara bertahap. Yakni, dimulai dari penjumlahan bilangan di bawah 20. Jika sudah dihafal oleh mereka, ditingkatkan ke perkalian 1-10.Selanjutnya, jika penjumlahan dan perkalian telah mumpuni, pengurangan dan pembagian pun bisa dikuasai.Metode yang diajarkan Yohanes itu pun berbuah hasil.

    Buktinya, sebanyak enam siswa SD asal Papua binaan Surya Institute pada 2009 mampu meraih nilai ujian nasional (UN) untuk bidang Matematika, IPA, bahasa Indonesia dan lainnya di atas nilai 90."Artinya, jika pelajaran matematika sudah bisa dimengerti, pelajaran lainnya pun akan mudah dipelajari dan mengerti. Jadi, kuncinya adalah bagaimana menanamkan pelajaran matematika itu kepada siswa agar mudah dimengerti," tandas Yohanes.Hal tersebut dibenarkan Geterina Sikwa, siswa kelas 5 SD asal Papua. Menurut Sikwa, pelajaran matematika dapat dikuasai dalam waktu maksimal 6 bulan."Kalau kita menguasai matematika, bidang pelajaran lainnya tidak sulit," kata Sikwa.

    Sebab itu, Sikwa kini merasa senang. Baginya, matematika tidak lagi seperti pelajaran yang menyeramkan seperti sebelum ia dididik di Surya Institute. Bahkan, ia kini mulai menyukai mata pelajaran lain seperti bahasa Indonesia dan ilmu pengetahuan alam.Meski Sikwa mulai menyukai mata pelajaran lain setelah matematika, bagi Yohanes Surya, tugasnya belum usai. "Saat ini, saya masih mau membina siswa dari daerah tertinggal lainnya agar bisa seperti Sikwa," tandasnya. (Sumantri Handoyo/H-3)


    by janyur uksw,,from http://bataviase.co.id/node/353291

    Kisah-kisah Ajaib Seputar Matematika


    Cerita-cerita ajaib dan mebuat kita heran dapat ditemukan juga dari dunia matematika. Berikut ini merupakan kisah-kisah nyata yang diambil dari beberapa sumber.

    Carl Friedrich Gauss

    Carl Friedrich Gauss merupakan salah satu ilmuwan hebat dunia, ia juga diakui sebagai ahli matematika terbesar sepanjang masa. Hal ini cukup beralasan, sebab ia memang jenius sejak kecil. Pada saat Gauss berusia tiga tahun, ia berhasil menemukan kesalahan yang dilakukan ayahnya waktu sang ayah melakukan kalkulasi di bidang keuangan.

    Gauss melakukan hal yang menakjubkan lagi saat ia berada di sekolah dasar. Pada waktu itu guru matematikanya meminta murid-murid menjumlahkan bilangan-bilangan dari 1 hingga 100. Ia melakukannya dengan harapan ia bisa beristirahat cukup lama sebelum melanjutkan pelajaran, namun ternyata Gauss berhasil menyelesaikan soal tersebut beberapa detik setelahnya. Gauss menyelesaikannya dengan cara yang unik: ia mengelompokkan bilangan dari 1 hingga 100 menjadi 1 dan 100, 2 dan 99, 3 dan 98, dan seterusnya hingga 50 dan 51. Jumlah setiap pasang bilangan adalah 101 dan ada 50 pasang bilangan, sehingga jumlah total bilangan adalah 50 x 101= 5050. Mantap.

    Paul Wolfskehl

    Ia bukan orang yang ahli matematika, melainkan orang industri dari Jerman. Lalu apa hubungannya dengan matematika?

    Cerita Paul Wolfskehl ini lebih mengherankan lagi: hidupnya diselamatkan oleh matematika. Entah karena masalah percintaan atau karena penyakit yang dideritanya, suatu hari ia berniat mengakhiri hidupnya. Paul bahkan sudah merencakan tanggal dan pukul berapa ia akan bunuh diri dan menyiapkan pistol untuk kemudian diarahkan ke kepalanya. Beberapa jam sebelum ingin menembak dirinya, ia mengunjungi perpustakaan pribadinya dan menemukan sebuah makalah tentang teorema yang sangat terkenal: Fermat’s Last Theorem.

    Ia mulai membaca, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk ia tenggelam dalam kesibukannya. Bukannya memikirkan mengenai bunuh diri, ia sibuk berpikir bagaimana cara memecahkan persoalan yang ada pada makalah tersebut. Perjuangannya memecahkan soal memang akhirnya gagal, namun tepat setelah itu dia sadar bahwa waktu yang ia tentukan untuk menembak dirinya sudah lewat. Ia pun terkagum dengan keindahan yang dia alami dalam memecahkan persoalan dan membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Sebagai “balas jasa”, ia menyelenggarakan hadiah 100.000 Marks bagi siapa yang dapat memecahkan permasalahan Fermat’s Last Theorem. Hadiah ini kemudian dikenal dengan nama hadiah Wolfskehl.

    George Dantzig

    Jika dua kisah pertama belum membuat anda heran, bisa dipastikan anda akan takjub dengan cerita mengenai seorang ahli statistika dan riset operasional ini. Waktu menempuh studi Doktoral, George Dantzig terlambat menghadiri suatu kuliah. Dua soal sudah dituliskan di papan tulis sewaktu ia memasuki ruangan. Ia pun menyalinnya dan mengerjakannya sebagai tugas kuliah. Beberapa saat kemudian ia sadar bahwa soal tersebut bukanlah soal yang mudah…namun karena merasa bahwa itu adalah tugas ia tetap mengerjakannya. Dua soal itupun akhirnya selesai, lalu George mengumpulkannya ke dosen pengampu dan meminta maaf atas lamanya waktu yang dia butuhkan untuk menyelesaikannya dengan beralasan bahwa soal tersebut “sedikit lebih sulit daripada biasanya”.

    Kira-kira enam minggu sesudahnya, sang dosen datang ke rumah George sambil tergopoh-gopoh membawa tugas yang ia kumpulkan. Si empunya rumah sempat merasa tidak enak dan berpikir bahwa ia sudah melakukan kesalahan, namun ternyata…? Sang dosen memberitahunya bahwa apa yang ia pecahkan adalah dua soal statistika terkenal tinggi yang belum terpecahkan oleh siapapun. George menjadi orang pertama yang berhasil memecahkannya dan pekerjaannya dirangkum menjadi sebuah makalah untuk kemudian dipublikasikan oleh sang dosen. Tidak berhenti sampai di situ, tahun berikutnya saat George bingung menentukan topic disertasi, sang dosen berkata bahwa penyelesaian dua soal tersebut akan diterimanya sebagai disertasi…

    Kisah mengenai George Dantzig ini bahkan dipakai oleh seorang pendeta di masa itu sebagai bahan khotbah tentang kekuatan dari berpikir positif. Lebih lanjut lagi, sebuah film populer berjudul Good Will Hunting dibuat pada 1997 berdasarkan kisah George Dantzig.

    Mencengangkan? Itulah serangkaian contoh bahwa dunia matematika pun bisa membuat kita terheran-heran.

    Pembelajaran Matematika Dengan Metode Ekspositori


    PENDAHULUAN

    Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

    Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.Untuk menghadapi keadaan demikian yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif tersebut artiya siswa harus memiliki kemampuan matematika. Kemampuan matematika yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan minimal yang diajarkan di sekolah tempat mereka belajar. Dalam pelaksanaan Pembelajaran matematika dalam kelas, guru harus dapat membantu siswa untuk belajar matematika. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar murid-murid belajar. Dalam menciptakan suasana atau pelayanan, hal yang esensial bagi guru adalah memahami bagaimana murid-muridnya memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-muridnya ( Rusdi A sirod). Adapun tujuan pembelajaran mata pelajaran matematika SMA ( Standar Kompetensi, 2006) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sbb :1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah

    2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika SMA tersebut, diperlukan kemampuan seorang guru matematika dalam menggunakan metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode pengajaran ekspositori.2. TEORI BELAJAR-MENGAJAR MATEMATIKA YANG RELEVANTeori belajar mengajar matematika yang relevan dengan metode ekspositori dalam pembelajaran matematika antara lain :a. Teori GagneDalam belajar matematika ada 2 objek yang dapat diperoleh siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain adalah : kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri ( belajar, bekerja, dan lain-lain ), bersikap positif terhadap matematika, tahu bagaimana semestinya belajar.

    Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan prinsip.• Fakta . Contoh fakta adalah : angka/lambang bilangan, sudut, ruas garis, symbol notasi• Keterampilan, keterampilan adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat, Misalnya : Membagi sebuah ruas garis yang sama panjang, melakukan pembagian cara singkat, dll• Konsep, adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan bukan contoh.• Prinsip, prinsip adalah objek yang paling abstrak, dapat berupa sifat, dalil, teori, dll.b. Teori AusubelDavid Ausubel, termasuk ke dalam aliran tingkah laku. Ia terkenal dengan belajar bermaknanya dan penting adanya pengulangan sebelum pelajaran dimulai. Ausubel membedakan belajar menerima dengan belajar menemukan. Pada belajar menerima bentuk akhir dari yang diajarkan itu diberikan sedangkan pada belajar menemukan , bentuk akhir itu harus dicari oleh siswa. Misal, bila kita mengajarkan rumus akar persamaan kuadrat, pada belajar menerima rumus akar persamaan kuadrat itu diberitahukan. Sedangkan pada belajar menemukan, rumus itu harus ditemukan oleh siswa. Ausubel juga membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. Belajar menghafal , siswa belajar melalui menghafalkan apa yang sudah diperoleh. Belajar

    bermakna bermakna adalah belajar yang untuk meahami apa yang sudah diperolehnya itu dikaitkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya itu lebih bermakna.Ausubel berpendapat bahwa baik belajar menemukan maupun belajar menerima ( dengan metode ekspositori) , kedua-duanya dapat menjadi belajar mengafal atau belajar bermakna.Contoh : dalam mempelajari konsep dalil pyhtagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk terakhir c2=b2+c2

    sudah disajikan (belajar menerima), tetapi siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku; jadi ia belajar secara bermakna. Siswa lain memahami c2=b2+c2

    dari pencarian ( belajar menemukan ) , tetapi bila ia hanya menghafalkan c2=b2+c2

    tanpa dikaitkan dengan sisi-sisi segitiga siku-siku, maka terjadinya ia menghafal.

    http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/09/pengertian-metode-ekspositori/

    Pembelajaran Matematika Dengan Metode Ekspositori


    PENDAHULUAN

    Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

    Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.Untuk menghadapi keadaan demikian yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif tersebut artiya siswa harus memiliki kemampuan matematika. Kemampuan matematika yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan minimal yang diajarkan di sekolah tempat mereka belajar. Dalam pelaksanaan Pembelajaran matematika dalam kelas, guru harus dapat membantu siswa untuk belajar matematika. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar murid-murid belajar. Dalam menciptakan suasana atau pelayanan, hal yang esensial bagi guru adalah memahami bagaimana murid-muridnya memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-muridnya ( Rusdi A sirod). Adapun tujuan pembelajaran mata pelajaran matematika SMA ( Standar Kompetensi, 2006) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sbb :1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah

    2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika SMA tersebut, diperlukan kemampuan seorang guru matematika dalam menggunakan metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode pengajaran ekspositori.2. TEORI BELAJAR-MENGAJAR MATEMATIKA YANG RELEVANTeori belajar mengajar matematika yang relevan dengan metode ekspositori dalam pembelajaran matematika antara lain :a. Teori GagneDalam belajar matematika ada 2 objek yang dapat diperoleh siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain adalah : kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri ( belajar, bekerja, dan lain-lain ), bersikap positif terhadap matematika, tahu bagaimana semestinya belajar.

    Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan prinsip.• Fakta . Contoh fakta adalah : angka/lambang bilangan, sudut, ruas garis, symbol notasi• Keterampilan, keterampilan adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat, Misalnya : Membagi sebuah ruas garis yang sama panjang, melakukan pembagian cara singkat, dll• Konsep, adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan bukan contoh.• Prinsip, prinsip adalah objek yang paling abstrak, dapat berupa sifat, dalil, teori, dll.b. Teori AusubelDavid Ausubel, termasuk ke dalam aliran tingkah laku. Ia terkenal dengan belajar bermaknanya dan penting adanya pengulangan sebelum pelajaran dimulai. Ausubel membedakan belajar menerima dengan belajar menemukan. Pada belajar menerima bentuk akhir dari yang diajarkan itu diberikan sedangkan pada belajar menemukan , bentuk akhir itu harus dicari oleh siswa. Misal, bila kita mengajarkan rumus akar persamaan kuadrat, pada belajar menerima rumus akar persamaan kuadrat itu diberitahukan. Sedangkan pada belajar menemukan, rumus itu harus ditemukan oleh siswa. Ausubel juga membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. Belajar menghafal , siswa belajar melalui menghafalkan apa yang sudah diperoleh. Belajar

    bermakna bermakna adalah belajar yang untuk meahami apa yang sudah diperolehnya itu dikaitkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya itu lebih bermakna.Ausubel berpendapat bahwa baik belajar menemukan maupun belajar menerima ( dengan metode ekspositori) , kedua-duanya dapat menjadi belajar mengafal atau belajar bermakna.Contoh : dalam mempelajari konsep dalil pyhtagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk terakhir c2=b2+c2

    sudah disajikan (belajar menerima), tetapi siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku; jadi ia belajar secara bermakna. Siswa lain memahami c2=b2+c2

    dari pencarian ( belajar menemukan ) , tetapi bila ia hanya menghafalkan c2=b2+c2

    tanpa dikaitkan dengan sisi-sisi segitiga siku-siku, maka terjadinya ia menghafal.

    http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/09/pengertian-metode-ekspositori/

    Pembelajaran Matematika Dengan Metode Ekspositori


    PENDAHULUAN

    Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

    Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.Untuk menghadapi keadaan demikian yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif tersebut artiya siswa harus memiliki kemampuan matematika. Kemampuan matematika yang harus dimiliki oleh siswa adalah kemampuan minimal yang diajarkan di sekolah tempat mereka belajar. Dalam pelaksanaan Pembelajaran matematika dalam kelas, guru harus dapat membantu siswa untuk belajar matematika. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar murid-murid belajar. Dalam menciptakan suasana atau pelayanan, hal yang esensial bagi guru adalah memahami bagaimana murid-muridnya memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid-muridnya ( Rusdi A sirod). Adapun tujuan pembelajaran mata pelajaran matematika SMA ( Standar Kompetensi, 2006) adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sbb :1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah

    2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika SMA tersebut, diperlukan kemampuan seorang guru matematika dalam menggunakan metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode pengajaran ekspositori.2. TEORI BELAJAR-MENGAJAR MATEMATIKA YANG RELEVANTeori belajar mengajar matematika yang relevan dengan metode ekspositori dalam pembelajaran matematika antara lain :a. Teori GagneDalam belajar matematika ada 2 objek yang dapat diperoleh siswa, objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung antara lain adalah : kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri ( belajar, bekerja, dan lain-lain ), bersikap positif terhadap matematika, tahu bagaimana semestinya belajar.

    Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan prinsip.• Fakta . Contoh fakta adalah : angka/lambang bilangan, sudut, ruas garis, symbol notasi• Keterampilan, keterampilan adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat, Misalnya : Membagi sebuah ruas garis yang sama panjang, melakukan pembagian cara singkat, dll• Konsep, adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan bukan contoh.• Prinsip, prinsip adalah objek yang paling abstrak, dapat berupa sifat, dalil, teori, dll.b. Teori AusubelDavid Ausubel, termasuk ke dalam aliran tingkah laku. Ia terkenal dengan belajar bermaknanya dan penting adanya pengulangan sebelum pelajaran dimulai. Ausubel membedakan belajar menerima dengan belajar menemukan. Pada belajar menerima bentuk akhir dari yang diajarkan itu diberikan sedangkan pada belajar menemukan , bentuk akhir itu harus dicari oleh siswa. Misal, bila kita mengajarkan rumus akar persamaan kuadrat, pada belajar menerima rumus akar persamaan kuadrat itu diberitahukan. Sedangkan pada belajar menemukan, rumus itu harus ditemukan oleh siswa. Ausubel juga membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. Belajar menghafal , siswa belajar melalui menghafalkan apa yang sudah diperoleh. Belajar

    bermakna bermakna adalah belajar yang untuk meahami apa yang sudah diperolehnya itu dikaitkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya itu lebih bermakna.Ausubel berpendapat bahwa baik belajar menemukan maupun belajar menerima ( dengan metode ekspositori) , kedua-duanya dapat menjadi belajar mengafal atau belajar bermakna.Contoh : dalam mempelajari konsep dalil pyhtagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk terakhir c2=b2+c2

    sudah disajikan (belajar menerima), tetapi siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku; jadi ia belajar secara bermakna. Siswa lain memahami c2=b2+c2

    dari pencarian ( belajar menemukan ) , tetapi bila ia hanya menghafalkan c2=b2+c2

    tanpa dikaitkan dengan sisi-sisi segitiga siku-siku, maka terjadinya ia menghafal.

    http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/09/pengertian-metode-ekspositori/

    rss
    rss


    Copyright © 2010 janyur Blogg's All rights reserved.Powered by Blogger.