• Post Title

    Category

    Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s,when an unknown printer...

    Buton

  • MATEMATIKA UNTUK SEMUA


    TUHAN menciptakan manusia di muka bumi ini dilengkapi dengan kemampuan berpikir atau akal yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, yang menentukan manusia ingin cerdas atau tidak ialah pendidikan yang ditularkan orang tua ataupun lingkungan mereka.

    Begitulah salah satu prinsip yang dipegang Yohanes Surya, pendiri Surya Institute, lembaga yang memiliki perhatian di bidang sains terutama matematika, dengan metode belajar gasing (gampang, asyik, dan menyenangkan).Merealisasikan itu tentu tidak mudah. Yohanes mencoba melakukannya dengan mengajak kerja sama pemerintah daerah, terutama daerah-daerah yang kehidupan masyarakatnya masih tertinggal. Salah satu daerah itu ialah Provinsi Papua.

    Saat ini, ada sekitar 90 anak asal Papua yang dibina Surya Institute. Biaya pendidikan dan penginapan anak-anak itu sudah dijamin atau ditanggung pemerintah daerah."Saya sengaja mendatangkan anak-anak dari daerah tertinggal seperti Papua, karena jika mereka berhasil belajar, mereka bisa menjadi pionir memajukan pendidikan di daerah tersebut," kata Yohanes kepada Media Indonesia, di Serpong, Tangerang, Banten, pekan lalu.

    Harapan bisa menjadi pionir, karena anak-anak Papua rupanya tidak kalah dengan anak-anak lainnya dari daerah yang lebih maju. Pasalnya, mereka juga bisa dibina dengan cepat di Kantor Surya Institute di Jl Pahlawan Seribu, Golden Boulevard Blok U3-U6, BSD City, Tangerang, Banten.Mereka yang dibina itu sebagian besar pelajar SD dari beberapa kabupaten di Papua, seperti Jayawijaya, Jayapura, Sorong Selatan, Fakfak, Woropan, Tolikara, dan Nduga. Rata-rata dari mereka adalah siswa yang terbelakang di bidang matematika di sekolahnya.

    "Namun, setelah mereka belajar matematika maksimal 6 bulan, kemajuan mereka, sangat pesat, bahkan mereka bisa diadu dengan para siswa pintar di sekolah asalnya," tutur Yohanes.Tekniknya, ungkap Yohanes, sangatlah sederhana. Kemampuan mereka dalam pelajaran matematika cukup diasah secara bertahap. Yakni, dimulai dari penjumlahan bilangan di bawah 20. Jika sudah dihafal oleh mereka, ditingkatkan ke perkalian 1-10.Selanjutnya, jika penjumlahan dan perkalian telah mumpuni, pengurangan dan pembagian pun bisa dikuasai.Metode yang diajarkan Yohanes itu pun berbuah hasil.

    Buktinya, sebanyak enam siswa SD asal Papua binaan Surya Institute pada 2009 mampu meraih nilai ujian nasional (UN) untuk bidang Matematika, IPA, bahasa Indonesia dan lainnya di atas nilai 90."Artinya, jika pelajaran matematika sudah bisa dimengerti, pelajaran lainnya pun akan mudah dipelajari dan mengerti. Jadi, kuncinya adalah bagaimana menanamkan pelajaran matematika itu kepada siswa agar mudah dimengerti," tandas Yohanes.Hal tersebut dibenarkan Geterina Sikwa, siswa kelas 5 SD asal Papua. Menurut Sikwa, pelajaran matematika dapat dikuasai dalam waktu maksimal 6 bulan."Kalau kita menguasai matematika, bidang pelajaran lainnya tidak sulit," kata Sikwa.

    Sebab itu, Sikwa kini merasa senang. Baginya, matematika tidak lagi seperti pelajaran yang menyeramkan seperti sebelum ia dididik di Surya Institute. Bahkan, ia kini mulai menyukai mata pelajaran lain seperti bahasa Indonesia dan ilmu pengetahuan alam.Meski Sikwa mulai menyukai mata pelajaran lain setelah matematika, bagi Yohanes Surya, tugasnya belum usai. "Saat ini, saya masih mau membina siswa dari daerah tertinggal lainnya agar bisa seperti Sikwa," tandasnya. (Sumantri Handoyo/H-3)


    by janyur uksw,,from http://bataviase.co.id/node/353291

    0 komentar:

    Posting Komentar

    rss
    rss


    Copyright © 2010 janyur Blogg's All rights reserved.Powered by Blogger.